Friday, February 24, 2012

Harmoni dalam mengenal musik (Part 1)


Saat itu aku merasa bahwa aku tak pernah berniat sedikitpun mengenal dunia musik. Bahkan bermimpi pernah menyanyi di depan ratusan orang pun tak pernah.

Namun ternyata semua bisa berubah, saat itu aku masih berusia sekitar 12 tahun dan pertama kali mengenal musik karena sebuah tugas dari sekolah. Aku ditugaskan sebagai salah satu wakil dari sekolah untuk mengikuti pagelaran musik di sebuah acara musik di kotaku. Awalnya aku menolak untuk melaksanakan tugas itu, namun setelah guru musik di sekolahku memberikan pengertian akan pentingnya tugas ini bagi sekolah kami, maka dengan berat hati aku menerimanya.

Aku ditempatkan di bagian pemain musik pianika, sungguh berat bagiku karena belajar sesuatu yang tak kusukai, tapi ini semua kulakukan demi nama baik sekolahku.


Kami diberikan waktu 4 minggu untuk latihan secara intensif, setiap pulang sekolah aku datang ke sanggar NADA dan GITA, hingga kini aku masih ingat nama sanggar itu.  Dari tempat itu juga aku pertama kali bertemu dengan seorang penyanyi wakil dari sekolahku yang saat ini sudah menjadi seorang penyanyi terkenal di belantara musik dangdut, ya dialah Gita KDI, aku sama sekali tak menyangka aku bisa bertemu dengannya, walaupun tak satu ucap katapun aku berbicara dengannya. Namun aku berbangga hati pernah bertemu dan pernah satu panggung bersamanya.  Aku masih ingat Teh Gita
(panggilan untuk kakak kelas) menyanyikan lagu  TEGAR bahkan menurutku lebih indah dari penyanyi aslinya. Kemudian aku mengenal penyanyi lain dari sekolah yang berbeda, aku tak bisa ingat namanya, tapi yang jelas ku ingat adalah lagu yang dibawakannya berjudul ”DI UJUNG RINDU” begitu merdu dan membuat merinding. Dari sanalah awal mula ku mengenal dan menyukai nada musik.

Saat aku mulai masuk sekolah menengah umum, aku berfikir tak mungkin aku bisa mengulang dan mengenal dunia musik lagi, namun semenjak aku bertemu
salah satu teman di sekolahku dulu, yah, dialah yang sampai saat ini menjadi salah satu sahabat terdekatku. Aku mengenal dia saat aku ditugaskan untuk mengikuti kegiatan klub paduan suara di sekolah. Disitulah awal mula aku mengenal orang lebih dekat dan mulai mencoba terbuka dengan orang lain. Padahal sejak SD aku termasuk salah satu anak yang ”kuper” tak pernah aku berkelompok dengan teman-temanku, tak pernah aku bermain sepulang sekolah. Cerita masa kecilku bersama sahabat akan kuungkap pada cerita selanjutnya.

Aku mengenal nada-nada yang diajarkan oleh guru seni musikku. Di klub paduan suara mungkin aku salah satu anak yang tak kreatif dalam memainkan nada bahkan sepertinya paling tak bisa mengenal nada secara cepat dibandingkan dengan teman-temanku lainnya.

Aku tak pernah putus asa, karena ternyata aku mulai menyukai nada. Aku diposisikan di bagian suara tenor, walaupun pada saat itu aku sama sekali tak mengerti apa itu tenor, bariton, bas, atau istilah-istilah dalam paduan suara.

Kemudian setelah sekian lama  aku bergabung dengan klub itu aku mulai mengenal musik jenis lain yaitu musik bergenre ”NASYID”. Kami membentuk sebuah grup nasyid di sekolah kami hingga jadi sebuah grup nasyid yang profesional yang tampil dari panggung ke panggung, sampai tampil di acara pernikahan. Tak banyak uang yang kami terima, tapi kebahagiaan kami bukan diukur dari jumlah yang kami kumpulkan dari setiap penampilan, akan tetapi dari kebahagiaan indahnya mempunyai teman-teman yang baik dan berdakwah bersama melalui sebuah lagu.

Tersenyum aku bila mengingat semua kenangan itu, sampai aku dan dua orang sahabatku berfikir sama untuk membuat sebuah ”genk”. Kami bertiga memiliki satu misi yang sama yaitu hanya ingin memperlihatkan pada ”genk-genk” lain di sekolah kami bahwa kami pun ada dan punya ciri tersendiri.  Yang lebih menggelikan lagi, kami sampai mengadakan sebuah perlombaan kalau saat ini heboh soal ”BOYBAND”, kami lebih dulu mengenal lomba boyband diantara genk-genk kami. Masih ingat dalam benakku, aku mulai berlatih manari dan menyanyi demi keberhasilan genk P2B. Kami memilih lagu dari boyband asing, dan pilihan kami jatuh pada lagu ”It’s gonna be me dan Bye-bye-bye” dari N’sync. Karena kami bukanlah penari atau penyanyi profesional, kami berusaha untuk menyamakan gerakan N’sync. Alhasil, aku malah memiliki tambahan teman, yang awalnya rival sekarang malah jadi sabahat. Terima kasih teman-temanku atas pengalaman yang hebat dan luar biasa...

Musik dalam Kehidupan

Mungkin ini adalah tulisan yang paling buruk diantara seluruh tulisan yang ada di blog manapun.
Aku bukanlah seorang penyair ataupun seorang pujangga yang bisa menata satu kata per kata menjadi rangkaian kalimat yang indah nan puitis.
Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang ada dalam kepalaku, dalam benakku, dan tentunya dalam otakku.

Musik bagiku berarti hidup, mohon maaf tanpa ada maksud untuk melecehkan orang yang tak mampu merasakan atau mendengar alunan indahnya musik. Tapi bagiku hidup tanpa musik bukanlah hidup.

Setiap hari aku mendengarkan tanpa memainkan musik, karena jujur tak satu pun alat musik yang dapat aku mainkan, karena aku bukanlah pemain musik. Aku hanya penikmat musik, itu saja…

Aku ingin berbagi apa yang ku punya, aku ingin orang lain bisa merasakan apa yang kurasakan tentang indahnya alunan musik. 

Saturday, February 18, 2012

Harmoni


Harmoni adalah keselarasan. Dalam beberapa bahasa, harmoni disebut armonía (Spanyol & Italia), harmonie (Perancis dan Jerman), zusammenklang (Jerman). Dalam teori musik, ilmu harmoni adalah ilmu yang mempelajari tentang keselarasan bunyi dalam musik. Harmoni atau ilmu harmoni juga bisa diartikan sebagai ilmu untuk menyusun dan menyambung akor-akor. Harmoni juga dapat dikatakan paduan nada , yaitu paduan bunyi nyanyian atau permainan musik yang menggunakan dua nada atau lebih yang berbeda tinggi nadanya dan dibunyikan secara serentak.

Friday, February 17, 2012

All About Love


a woman comes in the name of love
a mother leaves beacuse of love
suffused with an orange poison
you face is like a moon
sound asleep in your hearth
walled in by darkness and cold
what is the matter with them?

leaving one's hearth to be scorned
and for once i witness heaven's work through the  eyes of Eve

what's wrong with love?
and i will surely return when then moon is full

to ask again of her love
not for her not for anyone
but for myself because i want you
and that is all
sc from : "Ada Apa dengan Cinta"